Blogger VS Youtuber : Mana yang Menghasilkan Banyak Uang


Blogger VS Youtuber : Mana yang Menghasilkan Banyak Uang? 

Karena saya coba bikin blog dan channel YouTube, setelah melihat bagaimana perkembangan keduanya dari analitik, saya jawab apa adanya: IYA.

Sekarang, apa sih yang tidak kalah dari YouTube? Di saat market berlomba-lomba mencuri perhatian user untuk dapat traffic dan duit dari iklan, konten video adalah yang paling banyak menarik perhatian yang menguntungkan. YouTube adalah platform video-sharing terbesar, tidak heran kalau pengunjungnya luar biasa. Apalagi tren video viral jaman sekarang yang bisa sampai dibuat kompilasinya di TV [bahkan TV juga sudah kalah dari YouTube dan mereka punya channel YouTube semua wkwkwk]. Kalau sudah masuk TV, biasanya tetap ada tulisan sumber video, ah makin populer-lah pihak uploader. Kalau blog, akan sulit mendapat ekspos seperti itu.

Contoh nyata: Orang yang dulu bergerak di dunia otomotif dan mengulas untuk majalah, sekarang malah bisa lebih populer dan dapat banyak uang dari membuat konten YouTube. Mau jualan mobil, bisa menjangkau lebih banyak pembeli potensial lewat video review YouTube ketimbang upload reviewnya di blog. Penulis yang dulu kerja di majalah film, sekarang bisa membuat konten review dan dapat lebih banyak uang jauh melebihi apa yang didapat dari menulis.

Video membuat orang makin malas baca. Saya tidak peduli apa kata statistik dan laporan tingkat membaca masyarakat karena ada yang bilang kalu "Ah, enggak, minat baca tetap tinggi kok". Yang saya amati sendiri jelas-jelas minat baca turun drastis. Orang makin ke sini makin mau yang gampang dan instan. Bahkan ada tren video YouTube "Sinopsis Film A, B, C" yang ditonton jutaan kali—banyak dari penonton yang merasa video 10–20 menit menceritakan sinopsis itu sudah cukup dan tidak perlu menonton sendiri filmnya selama 2 jam [seperti fenomena orang baca SparkNotes dkk merasa sudah cukup tanpa perlu baca novelnya langsung].

Saya membuat video yang penjelasan detilnya saya tulis dalam bentuk artikel di blog. Di video itu sudah saya tuliskan penjelasan bahwa detil video ini secara mendalam-tuntas bisa dibaca di blog yang saya sertakan linknya. Dari traffic penonton video yang jumlahnya ratusan ribu, artikelnya baru dibaca sekitar 1000 kali. Boro-boro pada baca artikel panjang lebar yang mendalam, bahkan deskripsi di bawah video saja banyak yang tidak mau baca dan masih tanya-tanya di kolom komentar. Hadeh… saya capek jawab satu-satu, makannya saya buatkan artikelnya supaya tuntas semua—eh pada gak dibaca.

Ohiya, dari pihak penyedia blog sendiri juga semakin ke sini terkesan kurang all-out dalam memberi layanan blog gratisan dan mempromosikan platform mereka. Bahkan, menggunakan blog gratisan mendapat stigma negatif "Ih, pake dot blogspot, ih pake dot wordpress, bayar domain sendiri dong". Padahal, YouTube adalah platform yang gratisan juga dan semua YouTuber terkumpul jadi satu di youtube.com, bukan pewdiepie dot com atau fitra eri dot com. Tim YouTube selalu memperbaharui fitur platform mereka tiap hari sementara penyedia blog masih senin-kamis. Saya melihat sendiri pilihan template di blogger saja mau muntah karena gitu-gitu aja, memaksa blogger untuk jor-joran membangun blog sendiri atau membayar jasa desainer web. Padahal iklan saja sudah menganaktirikan konten tulisan. Contohnya, [Google] adsense YouTube bisa didapatkan dari seberapa jumlah orang yang menonton iklan, sedangkan untuk blog iklan tidak boleh cuma ditonton tapi harus di-klik dulu…iya, pada diklik…tanda X [silang]-nya.

Namun kita semua punya preferensi, dan pangsa konten tulisan dan video juga sudah terbagi, seperti penggemar Harry Potter ada yang lebih suka novelnya dan yang lebih suka filmnya—ada juga yang suka keduanya [tapi pasti punya preferensi cenderung lebih suka yang mana].

Ini hanya sebatas pengalaman sendiri, orang lain mungkin mengalami hal yang berbeda.

0 Comments