Alasan Orang Tetap Merokok Meski Berbahaya dan Harga Cukai Naik

𝗔𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗿𝗼𝗸𝗼𝗸 𝗠𝗲𝘀𝗸𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗖𝘂𝗸𝗮𝗶 𝗡𝗮𝗶𝗸


Salam Pengetahuan bagi Kita Semua!
Halo, Knowledgers!

Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan mengumumkan kenaikan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 12,5 persen pada Kamis, 10 Desember 2020. Keputusan ini diambil dengan memperhatikan keberlangsungan tenaga kerja termasuk petani tembakau maupun industri.

Kenaikan cukai rokok atau cukai hasil tembakau (CHT), tentunya akan berimbas pada harga jual rokok. Meskipun harga cukai rokok melonjak dan berbahaya bagi kesehatan tubuh, tetapi sebagian orang tetap nekat mengonsumsinya.

𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙘𝙪𝙠𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙤𝙠𝙤𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙤𝙣𝙨𝙪𝙢𝙨𝙞𝙣𝙮𝙖?


Beberapa upaya sudah dilakukan untuk memininalisir konsumsi rokok, mulai dari peringatan pada bungkusnya berupa tulisan soal bahaya merokok untuk kesehatan, serta gambar-gambar mengerikan yang menunjukkan penyakit akibat merokok.


Namun, nampaknya upaya tersebut tidak begitu berpengaruh bagi perokok aktif. Banyak orang yang tidak menghiraukannya, dan tetap nekat melanjutkan kebiasaan buruknya, yaitu merokok.


Ada beberapa faktor yang membuat kebiasaan buruk seperti merokok itu awet dilakukan. Untuk itu, saya akan memberikan penjelasan tentang asalan orang tetap nekat merokok meski berbahaya, di antaranya:


• 𝗙𝗮𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂


Bungkus rokok memang menyematkan bermacam-macam gambar penyakit mengerikan yang disebabkan oleh rokok. Namun, kebiasaan merokok tetap berlanjut karena merasa penyakit itu tidak terjadi pada dirinya.


Seorang perokok berpikir bahwa dirinya aman karena tidak merasakan dampak buruk dari rokok, apalagi sampai mengalami hal seperti yang ada di gambar pada bungkus rokok.


• 𝗙𝗮𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗹𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻


Terkadang, seseorang merokok karena berada di lingkungan yang memang notabene-nya perokok. Di sisi lain, ada juga yang menjadikan rokok sebagai dorongan saat mengobrol, sehingga menjadi lebih santai dan menambah rasa percaya diri.


Bahkan, seseorang yang sudah tidak merokok pun bisa saja kembali merokok jika bergaul dengan perokok, walau jumlah rokok yang dikonsumsinya tidak sebanyak dulu.


• 𝗙𝗮𝗸𝘁𝗼𝗿 𝗽𝘀𝗶𝗸𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀


Kandungan zat-zat kimia pada rokok juga berperan dalam kebiasaan merokok. Seorang perokok akan merasa nyaman, rileks, dan tidak terikat dengan hal yang memberatkannya pada saat menghisapnya.


Namun, bukan berarti kebiasaan tersebut bisa dihentikan. Hal yang perlu dilakukan adalah mengetahui prioritas atau alasan berhenti merokok. Seseorang yang berhasil berhenti merokok berarti bisa meletakkan prioritasnya seperti faktor ekonomi atau kesehatan.


Misalnya, saat dompet mulai terganggu sementara kebutuhan banyak. Atau saat kesehatan terganggu seperti batuk-batuk, sesak napas, bahkan serangan jantung. Tentu hal ini tidak sebanding dengan kenikmatan yang diberikan rokok.


Maka dari itu, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi, berhentilah merokok dan lakukan pola hidup yang sehat. Selain dapat mengurasi risiko terkena penyakit, berhenti merokok juga merupakan solusi tepat bagi yang sedang ingin menabung untuk mencapai suatu tujuan.


Sekian, terima kasih.


Panjang umur perjuangan,
Panjang umur Ruang Pengetahuan!

0 Comments